Selasa, 04 November 2014

Bertemu dengan Pergimu

Malam kedua aku datang dan disini kembali tak ada hadirmu
2 hari yang lalu masih kusaksikan engkau tersenyum menanyakan aku
Masih terngiag hangat kata rindu yang kau aturkan padaku
Masih terasa manis kata cinta yang kau rayukan
Kalimat-kalimat pujian itu masih lekat diingatanku, hingga kini
Tapi kini, langit gelap berawan itu menegurku
“sadarlah!”

Selasa, 28 Oktober 2014

Berbeda Dalam Persamaan

Saat bulan tersenyum menyapaku, hangat
Kemanakan hilangnya hadirmu, yang lebih hangat
Aku meredup lelah bertanya, aku semakin bosan menerka
Yang sebenarnya mungkin sudah kutahu jawabnya
Apakah salah jika kubilang kau sedang bersamanya
Tidak. Bukan sedang. Kau hanya ingin bersamanya
Tak lelahkah kau?

Masih Tak Bisa Meyakinimu

Goresan pensil warnaku semalam semakin tak berarah
Disatu sisi aku terlalu focus untuk mewarna bulatan-bulatan geometri itu
Garis yang membatasi tiap sisinya semakin tak Nampak
Semakin tebal ditengah sampai kertasnya nyaris sobek karena ketajaman pensil warna ini
Anganku tak bisa berjalan beriringan dengan tanganku
Pikiranku entah kenapa terlalihkan padamu
Yang sebelumnya enggan untuk ku perhatikan

Selasa, 16 September 2014

Kesepakatan Kita

Semua berawal dari sebuah kekesalan yang kekanakan
Tentang hasrat untuk memiliki yang tak mungkin terwujud
Tentang kebohongan yang memaksa untuk berhenti
Kulupakan sejenak tentang rasa peduliku
Kuhilangkan sebentar belas kasihanku
Memang sulit menumbuhkan ego yang tinggi didepanmu
Saat itu, dia datang
Sahabatku.

Sabtu, 06 September 2014

Berbahagialah Tanpa Terjatuh

Berita besar itu memang mengguncang semuanya
Mungkin entah disadari kau memikirkannya
Ini bidangmu, tapi entah kenapa kau tak bisa
Aku masih bisa melihatmu tersenyum kala kau bersiaga
Aku masih bisa melihatmu tertawa saat kau bersedia
Dan aku masih bisa melihatmu bahagia saat kau mulai
Tapi saat kau berhenti tak ada sedikit tawa

Minggu, 10 Agustus 2014

Aku dan Ujian

Ketika aku mulai bosan berada diruangan besar ini
Duduk menghadap lurus kedepan meja sudut ruangan
Kertas berisi pertanyaan berjumlah lima puluh itu mulai kusam
Penuh dengan coretan tak berguna yang kugoreskan
Tinta biru hitam memenuhi lembar demi lembar kertas soal itu

Aku tetap Bersembunyi

Zaman telah berganti, tapi tak dengan cerita tentangmu
Aku masih disini dalam hari jadimu yang kesekian kali
Gelap yang selalu membayangiku, tak sepadan dibanding kilaumu
Aku tetap bertahan walau kilaumu tak berujung padaku
Remang cahaya yang kudapat pun tetap ku artikan indah
Ini semua kuanggap realita tentang ceritaku bersamamu