Saat bulan tersenyum menyapaku, hangat
Kemanakan hilangnya hadirmu, yang lebih hangat
Aku meredup lelah bertanya, aku semakin bosan menerka
Yang sebenarnya mungkin sudah kutahu jawabnya
Apakah salah jika kubilang kau sedang bersamanya
Tidak. Bukan sedang. Kau hanya ingin bersamanya
Tak lelahkah kau?
Sadarkah jika kau ini hanyalah obat pelepas bosannya
Kuakui kau memang mendapatkan kasih sayangnya,
Tapi bukankah statuslah yang kau pinta?
Sebenarnya kita sama saja
Mengharapkan hal yang tak akan kita dapatkan
Kita terlalu memaksa ketidakmungkinan ini
Kenapa kau masih mencari paras jika yang biasa saja memiliki
hati yang lebih baik
Memang, berkata itu mudah. Kuakui itu
Aku sendiri tak tahan dengan sikapku
Yang terus menerus mengomentarimu, tanpa berkaca pada diriku
sendiri
Yang mencintaimu penuh pilu
Yang rela mengharapkan kedatanganmu yang tak tentu
Menginginkan mu yang semulia berlian ini
Bermimpi kau bisa mencintai tanah liat tak berharga
sepertiku ini
Kita sama sama berjuang, kita sama sama menunggu, kita sama
sama berharap
Tapi memang sungguh disayangkan, kita memimpikan orang yang
berbeda
Akankah tuhan memberikan kebahagiaan untukku, untukmu, untuk
kita
Akankah tuhan menyatukan kita dengan alasan persamaan
sadisnya penantian yag kita perjuangkan
Akankah? Mungkinkah? Aku memang berharap
Egois memang. Aku yang mengharapkan kebahagiaan dibalik
kesengsaraan yang akan kau dapatkan
Lagi pula, kau terlalu semurna. Jika hanya diperuntukkan
untukku yang sederhana ini
Akan gonjang rasanya jika kita bersanding bersama
Tapi akan menyakitkan jika pada akhirnya kita memang tak
bisa bersama, untukku
Bisakah kau merasakan lelahku?
Bisakah kau ikut merasakan penatku?
Ribuan kali kucoba untuk berhenti untuk menjauh dan pergi
Tapi semua hanya omong kosong karena sampai sekarang aku
selalu gagal
Aku tidak pernah bisa benar-benar menghapusmu dari hatiku
Bahkan menjauhkan diri dari kehidupanmu saja sudah sangat
sulit
Melupakanmu adalah hal yag mustahil yang tak mungkin
kulakukan
Keadaan selalu memaksa kita untuk terus bersama
Tapi apa alasan tuhan yang mendekatkan kita bila akhirnya
tak untuk menyatukan kita
Bukankah hati kita bukan sebuah tali yang bisa dengan mudah
ditarik ulur
Hati adalah hal yang kita perjuangkan untuk terus hidup dan
mengerti
Iya!
Setegar itulah hati kita yang sanggup untuk terus-menerus
tersakiti
Yang terus teguh untuk menunggu dan menanti walau memang
takkan ada jawaban pasti
Akankah aku, kamu, dia, dan mereka bisa bahagia tanpa ada
hati yang merasa terugikan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar