"Minggu Depan Aku Ke Jakarta"
Sepanjang hari aku tak bisa berhenti memikirkan kalimat singkat tanpa tanda baca itu. Sesekali ku buka Whatsapp dan menatap ruang obrolan yang hanya berisi satu pesan. ku jelajahi semua pesan masuk setelah aku mengunggah video pernikahan Dhita, membaca ucapan selamat dan mengamini semua doa yang masuk, membalas pesan dari Bisma, dan terakhir kubuka ruang obrolanku dengan Zidan. begitu kosong dibanding dua tahun yang lalu. pesan yang datang tadi pagi kubiarkan menggantung tak kubalas hingga sore ini, aku bingung dan selebihnya jantungku berdebar-debar. aku telah lama mengubur namanya, jauh sampai tak kusadari mungkin ada rasa yang masih tersisa.