Tidak pernah ada kata selesai diantara aku dan Zidan. Dia yang memilih untuk hilang, sementara aku memilih untuk mengakhiri secara sepihak, dan tidak dengan perasaanku yang berdebar-debar begitu aku mengijakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta. Seminggu sebelum Zidan juga akan menginjak lantai yang sama. Rasanya sudah begitu lama aku tak menatap langit namun bukan menikmatinya. Hatiku berdoa, tatkala ingin di yakinkan dengan pilihanku sekarang ini.