Goresan pensil warnaku semalam semakin tak berarah
Disatu sisi aku terlalu focus untuk mewarna bulatan-bulatan
geometri itu
Garis yang membatasi tiap sisinya semakin tak Nampak
Semakin tebal ditengah sampai kertasnya nyaris sobek karena
ketajaman pensil warna ini
Anganku tak bisa berjalan beriringan dengan tanganku
Pikiranku entah kenapa terlalihkan padamu
Yang sebelumnya enggan untuk ku perhatikan
Tapi apa daya, perlakuanmu yang manis itu selalu
membayangiku
Mengganggu konsentrasiku, menyita beberapa ruang di otakku
untuk menempatkanmu
Cinta, manis, cantik, hal-hal seperti itu sudah terlampau
sering kau ucapkan untukku berulangkali
Lirikan matamu yang beberaa kali kupergoki, salah tingkahmu
yang kerap tak dalapat kau kendalikan, dan beberapa hal kecil yang sering kita lakukan
bersama, membuatmu mrndapatkan tempat yang istimewa dihatiku
Namun, kebiasaanmu yang berucao tanpa berfikir itu membuatku
ragu
Membuatkau tak bisa yakin apakan kau mempunyai rasa istimewa
itu terhadapku
karena kita memang tak selalu bersama, kita tak pernah
bertukar pesan
tapi saat kita bertemu, kau selalu mengucap rindu
dibandingkan nama terakhir yang ada dihatiku dulu, kau
memnag tak lebih baik, kau tak lebih indah, dank au tak lebih sempurna
tapi kau sama cepatnya dengannya dalam memikat hatiku
apakah itu cukup? Tidak!
Itu alasanku bimbang apakah aku harus berpaling atau tidak
Apakan aku harus bertahan dengan dia, yang cintanya begitu mustahil untuk kudapatkan
Atau aku harus membuka hati untukmu? Orang baru yang
awwalnya sama sekali tak kuharapkan untuk ada
Namun kau datang tiba-tiba membawa kasih itu
Apa semua ini nyata? Atau aku hanya kau anggap boneka yang
menyenangkan untuk kau mainkan
Rasa ingin tahumu yang berlebihan dulu itu yang memaksa
otakku untuk terus mengingat setiap detail tentangmu
Dan rasa ingin tahuku yang tak berarti apa-apa nilah yang
membuatku bimbang untuk memilih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar