Dear, Mas
Pertemuan singkat kemarin banyak membuka mataku. Kemudian membuatku bertanya lagi, benarkah aku menginginkanmu ?
Seperti kalimat kalimat manis dariku setiap malam, sapaan hangatku saat pagi datang, dan cemburu manjaku saat kesal.
Dear, Mas
Pertemuan singkat kemarin banyak membuka mataku. Kemudian membuatku bertanya lagi, benarkah aku menginginkanmu ?
Seperti kalimat kalimat manis dariku setiap malam, sapaan hangatku saat pagi datang, dan cemburu manjaku saat kesal.
Aku menulis ini pukul 23.07
Sesaat setelah panggilan telepon kita berakhir. Kamu menyuruhku tidur, tentu saja seperti biasa aku tidak melakukannya. Sambil menunggu baterai ponsel terisi minimal 40%, aku membuka instagram. Tidak ada yang menarik selain story teman temanku yang sebenarnya sudah ingin ku sembunyikan. Baik, alenia pertama ini aku masih berbicara kesana kemari yang intinya aku mau bilang bahwa aku akan pindah ke akun ketigaku. Bukan apa apa, hanya ingin mencari suasana baru.
Aku tersenyum, catat ya T E R S E N Y U M
Bukan tertawa apalagi menertawai
Malam ini aku belum tidur
Sampai hari berganti hari
Semula rabu menjadi kamis
Sudah tiga hari
Sebelumnya gue ucapkan selamat membaca untuk kekasih gue yang gue sayang. Dia yang bukan merupakan alasan dibalik tulisan tulisan gue selama ini. Bukan dia tokoh yang selama ini jadi latar tokoh dalam puisi cinta gue. Tapi dia adalah orang yang berhasil meluluhkan prinsip paling kokoh dalam hidup gue. I don’t wanna start a relationship because I’m afraid of broken heart. Tapi sama dia, gue yakin dia adalah orang yang nggaakan nyakitin gue apalagi bikin gue patah hati. So first of all, I will say I love you, mas.
Hari ini pukul delapan pagi aku sudah selesai packing, koperku masih setengah kosong. Sengaja karena nanti akan kuisi dengan oleh oleh. Tania mengetuk pintu kamar ketika aku baru saja selesai memakai bluch on di pipi kanan. Aku berjalan menghampiri pintu sambil tangan kanan memegang brush dengan ujungnya berwarna merah jambu.
“masuk” kataku.
Aku mengangkat wajahku ke arah suara sementara tanganku masih bertepuk tangan mengiringi Dhita dan Riza yang berjalan sambil melambaikan tangan, aku melewatkannya. Dia tersenyum, kemudian aku segera mengusap air mataku yang menetes dengan ujung tissu dari tas tanganku. kalau tidak Bisma akan mengusap air mataku dengan tangannya dan sudah pasti akan merusak riasanku. aku tidak mau itu terjadi, apalagi di hari sepenting ini.
Bisma selalu begitu,suka memegang wajahku seenaknya, meremas pipiku, mengusap keningku, atau mencubit hidungku. padahal sudah kukatakan berulang kali bahwa aku membenci itu. Bisma memang suka seklai skinship, bahkan sejak kencan pertama kita dulu. sudah satu tahun, tapi aku masih mengingat jelas karena pertemuan kita penuh dengan magis, bisa dikatan serba kebetulan. kalau kata orang, orang dipertemukan karena jodoh, sepertinya hal itu memang terjadi padaku dan Bisma. setidaknya jodoh sampai hari ini.
Namaku Tesya, kebanyakan orang memanggilku Tasya. aku sering kesal ketika memesan makanan atau minuman dan ditanya "atas nama siapa?" kemudian kujawab "Tesya". ketika pesanan diantar, nama yang tertulis selalu Tasya. belum lagi kalau sedang makan di tempat ramai dan pelayan meneriakkan namaku sebagai tasya. Aku tahu itu bukan namaku tapi aku tetap mengangkat tangan, hal ini sering terjadi.
Tahun ini aku berusia 25 tahun, hanya enam bulan lagi dari hari ini. 25 hanyalah angka, aku tetaplah aku yang sama di tahun-tahun sebelumnya dan tahun-tahun setelahnya. kadang aku merasa aku terjebak dalam pikiran anak SMA kalau urusan romansa, dan seperti wanita berusia 30 tahun dalam urusan bekerja. kembali lagi, usia hanyalah angka. aku masihlah aku yang punya banyak versi.
Entah sudah berapa lama aku menunggu hari ini. Setelah perjalanan panjang pencarian kepastian. Kamu sudah lama hadir, kamu yang kupilih untuk duduk bersama denganku hari ini. Begitu panjang jalan yang kita lalui, namun sebuah hal yang lebih panjang kutahu sedang menanti kita. Aku memandang jari manisku ketika kamu melihat ke arah lain, sambil mengingat sesuatu. Cincin emas dengan berlian imitasi yang kupilih sendiri dua tahun lalu di toko perhiasan yang terkenal di kota.
Aku sebenarnya lebih suka memakai cincin di jari telunjuk, namun kamu memaksaku untuk memakainya di jari manis. Kamu yang hari ini sedang berada di tempat lain. Kita pernah punya mimpi yang sama, kita bisa bercerita sampai tengah malam berdebat tentang masa kuliah yang tidak akan bisa terulang. Dan pada akhirnya kamu tetap tidak mau mengalah, bahkan ketika memutuskan untuk pergi. Aku menghela nafas, mengalihkan pandangan ke arah tamu undangan yang berjalan memasuki terowongan bunga berwarna merah muda.
Ada seseorang yang tidak asing, kemudian kuperhatikan lagi. Aku tidak memakai kacamata padahal minusku cukup banyak, it will ruin my make up . Dia berjalan sendiri, mencoba membaur bersama tamu lain yang kebanyakan datang berdua sambil bergandengan tangan. Oh, bukan. Dia bukan seseorang yang kukira itu kamu. Yang sampai hari ini masih sering datang dan pergi dalam memoriku. Apa kabar ? sudah hampir empat tahun kamu berkelana di negeri Paman Sam. Sudahkah kamu menemukan apa yang kamu cari ? keadilan yang dulu sering kamu teriakkan di jalanan yang terik.
Aku berdiri, ketika pembawa acara meminta semua orang memberi penghormatan pada pasangan mempelai yang pagi tadi telah mengucap janji suci. Aku merapikan gaun hijau muda yang di hiasi manik-manik berkilauan. Pintu utama yang semula tertutup telah terbuka. Hanya langkah kaki anggun yang dapat menemani riasan cantik malam itu. Diiringi tepuk tangan dan lagu yang mengalun lirih, orang yang teramat penting dalam hidupku berjalan diatas permadani putih. Dengan tangan yang saling bertaut, tatapan indah itu membuatku tersenyum, lebih dari sekedar bahagia.
Sahabatku, hari ini dia menikah.