Selasa, 04 November 2014

Bertemu dengan Pergimu

Malam kedua aku datang dan disini kembali tak ada hadirmu
2 hari yang lalu masih kusaksikan engkau tersenyum menanyakan aku
Masih terngiag hangat kata rindu yang kau aturkan padaku
Masih terasa manis kata cinta yang kau rayukan
Kalimat-kalimat pujian itu masih lekat diingatanku, hingga kini
Tapi kini, langit gelap berawan itu menegurku
“sadarlah!”

Hal yang terjadi dahulu hanya sebuah kenangan kelabu
Mengalir tanpa arah dan tujuan, yang penuh dengan liku
Aku bersimpuh menerung diantara lautan manusia berteriak
Aku bosan. Aku lelah. Aku rindu.
Aku bosan dengan rutinitas tanpa batas ini
Aku lelah dengan penantian yang tak kunjung menampakkan akhir ini
Dan aku rindu akan kehadiranmu yang lama kudambakan
Kau tahu, aku rela berjalan menempuh ratusan kilometer dengan kaki rentanku hanya untuk menghabiskaan lebih banyak waktu bersamamu
Meyakini seorang engkau, yang sama sekali tak indah
Tapi dibalik prasmu yang masa bodoh itu, terselip sejuta keistimewaanmu
Engkau yang memiliki kemauan untuk hidup dan berhasil
Engkau yang meiliki otak dan pola pikir yang maju
Dan engkau yang kukira akan memiliki angan hidup yang bisa membahagiakanku
“sadarlah!”
Awan hitam berawan itu kembali menegurku
Ingatlah. Aku hanya berangan. Aku hanya bermimpi
Aku terlalu mengahrapkan keberadaanmu
Aku terlalu ingin kau bisa hadir menemaniku
Memaksakan kehendak tuhan yang hanya ingin menjadikanmu sebagai teman hidupku
Bukan seseorang yang dihadirkan untuk mengisi hari-hari tuaku
Bukan seseorang yang pantas kuimpikan datang disetiap sepiku
Tapi apa dayaku telah jatuh terlalu jauh dan dalam
Bukan salahku yang merasa nyaman berada didekatku
Tapi bukan juga salahmu yang membawa kebagiaan itu mask kedalam hidupku
Tak ada yang salah disini. Aku, kau, maupun tuhan atau siapapun
Keadaan yang menjebak kita berada didalam situasi yang sama
Menempatkan aku dan engkau untuk saling membutuhkan satu sama lain
Namun, alam seakan tak ingin bertanggung jawab atas kita
Tentang problema yang hadir diantara manis pahit hidup kita
Tentang realita yang begitu pahit dan nyata untuk kita percaya
“sadarlah!”
Langit yang semakin gelap dengan angin yang tak lelah berarak itu mengingatkanku untuk kesekian kali
Tak ada kita. Terlalu cepat untuk aku mengatakan kata kita
Aku masih duduk merenung disini, sendiri
Dan engkau mungkin masih sibuk dengan kesibukanmu, disana
Lelah. Sungguh lelah.
Kupikir awalnya kau adalah sosok lain yang tuhan kirimkan sebagai penggantinya
Itu yang membuatku berani untuk berhenti mengejar cintaku yang dulu dan berpaling padamu, untuk mendapatkan cinta yag baru
Ternyata aku salah
Yang aku lakukan kini ternyata tak jauh berbeda

Aku berhenti dari kesakitan dahulu dan berpaling padamu ternyata hanya untuk mendapatkan luka yang baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar