Senin, 19 Juni 2023

My First, My Future, My Eternal

Tidak pernah ada kata selesai diantara aku dan Zidan. Dia yang memilih untuk hilang, sementara aku memilih untuk mengakhiri secara sepihak, dan tidak dengan perasaanku yang berdebar-debar begitu aku mengijakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta. Seminggu sebelum Zidan juga akan menginjak lantai yang sama. Rasanya sudah begitu lama aku tak menatap langit namun bukan menikmatinya. Hatiku berdoa, tatkala ingin di yakinkan dengan pilihanku sekarang ini.

Aku melihat Bisma melambaikan tangan padaku dari pintu kedatangan, tak membawa bunga seperti rombongan disebelahnya yang beramai-ramai menyambut tamu kehormatan. Aku menyeka mataku yang tak berair, hanya memastikan bahwa aku tidak berkaca-kaca, memperagakan gesture mengantuk di depannya. Bisma mengambil alih koperku dan merangkulku hangat. Menuntunku kearah parkiran yang cukup jauh, kita sengaja tidak bertemu diparkiran, semua ornag yang mengenalku tahu betul aku benci tempat parkir dimanapun itu. karena aku selalu merasa kehilangan arah.

Bisma menyalakan ac dan menurunkan sandaran kursi untukku, membuatku mengela nafas panjang karena lelah. dia mulai menyalakan mesin mobil bising dan melaju. Ini mobil milik pamannya, sesekali dia pinjam untuk jalan jalan bersamaku, meskipun aku lebih suka berkendara naik sepeda motor dimalam hari. Jakarta terlalu macet untuk dinikmati dengan mobil. Namun disaat-saat tertentu, mobil pamannya ini menjadi tempat ternyaman bagiku dan Bisma.

Biasanya justru di dalam mobil kita akan hening, kebanyakan waktu aku selalu lelah dan dia memang suka menyetir dan sangat konsentrasi. kita sama-sama tidak ingin mengusik satu sama lain. Aku yang biasanya memilih menutup mata dengan satu tanganku karena silau, kali ini aku memandangi bima dari kursi disampingnya. Laki-laki ini sangat mencintaiku, sementara aku tak bisa lepas dari masa lalu. hari itu aku bersama Bisma, namun pikiranku tertuju kepada orang lain.

aku menyadari bahwa aku tidak mencintai Bisma seperti apa yang dia rasakan padaku. Aku menyukai perhatian dan waktu yang selalu dia berikan padaku. aku menyenangi sikapnya yang selalu menyanjungku, segala hal yang tak kudapat dari orang sebelumnya, Zidan. kembali lagi cerita ini membicarakan Zidan.

Dia sangat cuek, mencintaiku dengan caranya yang tak bisa ku mengerti. kita mungkin serasi, namun kita bertemu disaat yang tidak baik. kami bertemu disaat usiaku masih begitu muda untuk memaknai komitmen, sementara dia begitu yakin bahwa pernikahan adalah sebuah hal yang mudah, seolah aku yang pada saat itu sedang bermimpi banyak hal, akan reka begitu saja melepasnya. aku dan hatiku yang belum bisa percaya pada seseorang untuk kuhabiskan waktuku semua untuknya, dan dia yang tak menunjukkan rasa cintanya seperti apa yang ku harapkan.

aku termakan ekspektasi, dan jarak memegang peran penting dari renggangnya hubungan yang kukira akan berakhir sampai akhir. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diri bahwa Zidan memang meninggalkan cerita yang belum usai meskipun aku telah mencoba memulai cerita baru dengan Bisma. Bisma memiliki hal yang kucari dalam diri Zidan, namun tak dapat menggantikan hal yang kuimpikan dari Zidan, rasanya berbeda.

dan aku tidak tahu laki-laki mana yang memenangkan hatiku saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar