Namaku Tesya, kebanyakan orang memanggilku Tasya. aku sering kesal ketika memesan makanan atau minuman dan ditanya "atas nama siapa?" kemudian kujawab "Tesya". ketika pesanan diantar, nama yang tertulis selalu Tasya. belum lagi kalau sedang makan di tempat ramai dan pelayan meneriakkan namaku sebagai tasya. Aku tahu itu bukan namaku tapi aku tetap mengangkat tangan, hal ini sering terjadi.
Tahun ini aku berusia 25 tahun, hanya enam bulan lagi dari hari ini. 25 hanyalah angka, aku tetaplah aku yang sama di tahun-tahun sebelumnya dan tahun-tahun setelahnya. kadang aku merasa aku terjebak dalam pikiran anak SMA kalau urusan romansa, dan seperti wanita berusia 30 tahun dalam urusan bekerja. kembali lagi, usia hanyalah angka. aku masihlah aku yang punya banyak versi.
Aku bangun pagi meskipun tidak ada morning routine seperti weekdays biasanya. Hari sabtu biasanya aku mencuci baju, merapikan kamar kos, dan bermalas-malasan. Kalau sedang ingin, biasanya aku pergi malam mingguan bersama teman kantor yang juga tinggal disebelah kamarku. kami sama-sama anak rantau. Tinggal di kota jakarta sejak setahun lalu. Yang berbeda hari ini aku terbangun di kota Muara Enim, Sumatra Selatan. akan lebih familiar jika aku menyebutkan kota palembang, namun muara enim adalah bagian penting dari cerita sahabatku yang selalu kuingat.
Pertama kali yang kupikirkan tentang datang ke kota ini untuk pertama kali adalah aku akan bangun pukul 6 pagi dan matahari masih malu-malu, seperti kata temanku. kemudian aku akan sarapan mpek-mpek kapal selam dan kulit yang paling terkenal disini. Jalan-jalan ke Kambang Iwak hanya untuk melihat kehidupan kota Muara Enim dipagi hari sebelum ke acara pernikahan sahabatku. sewaktu kuliah, aku selalu punya rencana untuk datang ke kota ini untuk sekedar staycation bersama enam sahabatku. namun rencana itu tidak pernah terwujud hingga hari ini kami bertemu dengan kota ini dalam acara pernikahan Dhita.
Dhita tidak pernah absen berkabar selama enam tahun terakhir. setelah wisuda dan dia kembali ke kota asalnya, kami selalu memimpikan hal yang sama. cara bercerita kami tidak berubah, dan gayanya di sosial media tetap sama. Desember lalu aku pulang ke Jogja, kota kelahiranku. dia datang juga setelah tunangan dan memberikan undangan pernikahannya. siapa yang menyangka dia menjadi yang pertama melepas status lajang menjadi istri orang.
aku cukup terkejut, namun aku juga sudah menduga bahwa akhirnya dia akan bertukar cincin dengan Riza. Laki-laki yang pernah berselingkuh, yang pernah menyakiti Dhita sedalam-dalamnya, namun dia juga yang akhirnya menyerah dengan ego dan bertekuk lutut melamar Dhita. mereka menjalin hubungan putus nyambung sejak kami kuliah, Riza kuliah S2 di jogja sementara aku dan Dhita sedang berjuang menamatkan S1 kala itu. kuliah kami begitu berat dan Riza datang disaat yang tepat.
Sesaat setelah Dhita putus dari mantannya sejak SMA, Riza datang mengisi malam-malamnya. bahkan ketika kami sedang belajar kelompok di salah satu kos teman kami, dia akan menyempatkan satu dua jam pergi untuk makan bersama Riza. dari mereka aku juga belajar, bahwa pasangan yang saling mencintai pun bisa bimbang karena egoisme dalam diri. Riza yang teramat menyayangi dhita pernah kalah. Ketika ia mengerjakan tesis dan berada di titik terendahnya, saat itu lah seorang gadis asal bali menjadi tempat paling nyaman baginya. mungkin itu juga alasan dhita tidak mau bulan madu di bali.
karena datang dari kota yang sama, menyelesaikan masa studi yang hampir bersamaan, dan dhita yang masih menunggu kembalinya Riza, itulah yang mengantarkan mereka pada hari ini. Seluruh cerita mereka terputar kembali seperti film dalam benakku. ketika malam itu aku menemani dhita menangis di telepon, atau ketika aku berpapasan dengan Riza di gang kecil menuju kos dhita, semua kembali dan aku tak bisa menadan bulir air mata yang menggenang sejak tadi.
menjadi saksi jalan hidup orang lain memang memberi kesan yang indah, namun menjadi pelaku dalam cerita cinta sendiri adalah hal lain. begitu kompleks dan bodoh. tidak seperti ketika aku memberikan pesan dan nasihat pada teman yang sedang putus cinta. mencintai itu sendiri bagiku sangat berat, dan butuh usaha bernama ikhlas.
"kok nangis? besok jangan nangis di pernikahan kita, ya?" suara itu membuyarkan pikiran masa kuliahku bersama dhita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar