Aku mengangkat wajahku ke arah suara sementara tanganku masih bertepuk tangan mengiringi Dhita dan Riza yang berjalan sambil melambaikan tangan, aku melewatkannya. Dia tersenyum, kemudian aku segera mengusap air mataku yang menetes dengan ujung tissu dari tas tanganku. kalau tidak Bisma akan mengusap air mataku dengan tangannya dan sudah pasti akan merusak riasanku. aku tidak mau itu terjadi, apalagi di hari sepenting ini.
Bisma selalu begitu,suka memegang wajahku seenaknya, meremas pipiku, mengusap keningku, atau mencubit hidungku. padahal sudah kukatakan berulang kali bahwa aku membenci itu. Bisma memang suka seklai skinship, bahkan sejak kencan pertama kita dulu. sudah satu tahun, tapi aku masih mengingat jelas karena pertemuan kita penuh dengan magis, bisa dikatan serba kebetulan. kalau kata orang, orang dipertemukan karena jodoh, sepertinya hal itu memang terjadi padaku dan Bisma. setidaknya jodoh sampai hari ini.
Pesta pernikahan dhita ditutup dengan foto bersama keluarga dan braidsmaid -termasuk aku- dan pelemparan bunga tangan, sayang sekali aku tidak mendapatkannya. konon, jika kita berhasil menangkap bungan tangan pengantin, kurang dari enam bulan setelah itu kita akan menyusul ke pelaminan. itu berarti jika aku mendapatkannya aku akan menikah sebelum usiaku genap 25. mau bagaimana aku berdiri terlalu dekat dengan mulut pelaminan, bunga itu melambung cukup jauh. hampir semua orang menoleh kemudian tawaku dan beberapa orang pecah. Dani, salah satu sahabatku yang mendapatkannya.
Bukannya memberikan tepuk tangan, aku dan enam orang sahabatku justru berlari mendekat dan menggodanya. Dhita juga terlihat tertawa dari atas pelaminan. bagaimana tidak, dihari pernikahan dhita ini, diantara kami bertujuh yang datang sendiri adalah Dani. bukan karena dia tidak memiliki pasangan, namun karena dia memiliki dua nama dan dia tidak bisa memilih. akhirnya dia memutuskan untuk datang sendiri.
"Sukurin lo, Dan. enam bulan loh." kataku menggoda.
tidak semua orang di grup kami yang tahu bahwa saat itu Dani sedang mendua. hanya tau bahwa Dani terikat oleh hubungan pertunangan sejak empat tahun lalu namun belum juga menikah dengan tunangannya itu. Bagaimana mau menikah, Alfa tunangan Dani sampai saat ini belum lulus kuliah sementara Dani sudah hampir 3 tahun bekerja, dan kontraknya hampir habis. rencananya, setelah 3 tahun ia akan berhenti kerja dan membuka usaha sendiri. Jika jadi menikah dengan Alfa, mereka akan membuat usaha bersama dengan modal dari orang tua Alfa yang tajir melintir.
Melihat keadaan Alfa yang tidak juga menyelesaikan kuliahnya, Dani menjadi ragu dan ragu. terlebih ketika Mario mantannya saat kuliah datang dalam kehidupannya lagi. dia yang sekarang sudah menjadi pegawai di perusahaan besar di Nusa Tenggara. hanya saja Dani tidak mau meninggalkan Bandung, kota kelahiran dimana seluruh keluarganya ada disana.
Pembawa acara menyela tawa kami yang tak henti-henti. kemudian seluruh perhatian terpusat kembali ke arah Dhita. Kami pun terdiam berdiri seperti patung yang menahan tawa. suasana kembali hening ketika riza mengambil alih mikrofon dan mengatakan beberapa patah kata tentang pernikahannya hari ini dan memohon doa untuk rumah tangga mereka nantinya. Riza menyerahkan mikrofon kepada Dhita namun Dhita tidak mau menyumbang kata-kata, seperti biasa. sejak kuliah pun dia jauh dari julukan cerewet atau banyak bicara, orang yang tidak mengenalnya pasti mengira Dhita adalah orang yang cuek dan pendiam. padahal aslinya jika sedang bersama sahabat-sahabatnya, mulutnya pedas mengalahkan aku dan yang lain.
mobil sedan hitam dengan hiasan bunga dibagian depan dan samping pada pintu-pintunya melaju pelan meninggalkan venue pernikahan. Dhita tidak memberitahu kami dimana mereka akan menghabiskan malam pertama, hanya bilang bahwa keesokkan hari ini kami bertujuh wajib berkumpul untuk merayakan pertemuan kami. kami sudah bilang untuk menunda pertemuan agar Dhita bisa menikmati waktu bulan madu bersama Riza, namun rumah sakit tempat Riza bekerja ternyata juga tidak libur hari senin, dan Riza tidak bisa mengajukan cuti. akhirnya hari pertama setelah menikah, semua kembali seperti semula.
Aku kembali ke hotel sendirian setelah mengantar Bisma ke travel agent untuk berangkat malam ini juga ke palembang dan terbang ke jakarta besok subuh. Sama seperti Riza, Bisma juga tidak libur hari senin jadi dia pulang duluan. Sementara aku dan keenam temanku sudah sejak jauh hari mengajukan cuti untuk acara ini. dua hari kedepan kami akan bercinta dengan kota muara enim, dan kalau beruntung kami akan jalan jalan di palembang sebelum pulang ke kota masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar