Hari ini pukul delapan pagi aku sudah selesai packing, koperku masih setengah kosong. Sengaja karena nanti akan kuisi dengan oleh oleh. Tania mengetuk pintu kamar ketika aku baru saja selesai memakai bluch on di pipi kanan. Aku berjalan menghampiri pintu sambil tangan kanan memegang brush dengan ujungnya berwarna merah jambu.
“masuk” kataku.
Tania sudah rapi dengan kemeja hitam bunga-bunga favoritnya. Baju itu adalah baju lebaran tahun lalu katanya. Tania celingak celinguk mencari di setiap sudut kamar. Aku mengisyaratkannya untuk duduk di tempat tidur karena posisi ia berdiri menghalangi langkah kakiku yang kesana kemari mencari lipstik.
“Dani masih mandi.” Kataku tanpa ditanya dibalas dengan anggukkan kepala oleh Tania.
Dani bangun lebih dulu dariku namun dia tidak mau mandi telebih dulu, dia memilih untuk masuk kembali ke dalam selimut. Ketika aku bangun tiga puluh menit kemudian, dia masih terlelap disampingku, namun aku tahu dia sudah bangun untuk sholat subuh karena lampu kamar mandi menyala, tandanya dia habis mengambil wudhu. Aku bangun dan langsung mandi, kemudian baru kubangunkan Dani, kami packing bersama lalu dani masuk ke kamar mandi.
Alasannya tidak mau mandi setelah aku adalah katanya air panasnya tidak keluar, jadi dia belasan. Selalu beralasan. Kita aku dan dhita menasehatinya tentang masalah hubungannya dengan Alfa dan Mario dia juga selalu beralasan. Tidak mau menyudahi salah satunya, namun ia juga enggan untuk memilih keduanya.
“Masmu wes bali ?” tanyaku pada tania dengan bahasa jawa yang artinya ‘pacarmu sudah pulang?’
“Durung, baline bareng. Saiki ning kamar. Jarene arep turu.” Jawabnya.
Katanya ‘belum, pulangnya nanti bareng bersamanya. Sekarang ada di kamar, mau tidur seharian’. Datang ke Muara Enim bersama Seto, Tania satu satunya sahabatku yang pulangnya tidak sendiri, masih ditemani oleh pasangannya. Selain Dhita, Dani, Tania, dan Aku kelompok kami yang terdiri tujuh orang masih ada Reka dan Bria. Reka datang bersama temannya yang berasal dari palembang, mereka bertemu di tempat kerja di Bali dan karena temannya itu ingin juga pulang kampung jadi sekalian datang ke pernikahan Dhita, aku lupa nama teman Reka, yang kuingat hanya wajahnya yang puith dan tubuhnya yang kecil tinggi. Seperti angka sepuluh kalau berdampingan dengan Reka.
Kalau Bria berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Bekerja disana juga. Nah kalau Iwan, adalah teman SMP bria yang bertemu lagi ketika lulus kuliah dan berkomitmen sampai sekarang. Katanya mereka tidak ada tanggal jadian, jadi menyebutnya komitmen sampai halal. Dari bria, aku menyontoh bagian tidak ada tanggal jadian. Karena yang kujalani dengan Bisma seperti itu sekarang. Kami tidak punya tanggal untuk dirayakan atau panggilan khusus layaknya orang berpacaran. Iwan bekerja di salah satu proyek pembangunan jembatan di kalimantan dan pagi tadi ia berangkat ke palembang untuk penerbangan siang nanti, dia dan bria hanya enam bulan sekali bertemu dan kerennya, sampai hari ini sudah hampir tiga tahun mereka masih langgeng.
Bagi mereka, jarak bukanlah masalah. Berbeda dengan aku dan Zidan, laki-laki yang membelikanku cincin emas dengan berlian imitasi dua tahun lalu. Ketika dia akhirnya diterima kerja di papua, kami memutuskan untuk berpisah. Berpisah dengan baik-baik. Bahkan sebenarnya tidak benar-benar berpisah. Aku masih tidak rela jika disana Zidan bertemu dengan wanita lain. Namun aku pernah memastikan apakah dia akan pulang atau menetap, Zidan bilang dia akan pulang. Anehnya, Zidan tidak memintaku untuk menunggunya. Sampai akhirnya Bisma datang menyelinap ke dalam kehidupanku.
“Kring !!!”
“dirinding !”
Ponselku berbunyi dua kali dengan ringtone yang berbeda, yang satu kutahu itu dari Bisma karena nada deringnya sengaja kubedakan. Yang satunya lagi kulihat nama yang muncul diatas papan notifikasi. Zidan.
Minggu depan aku ke Jakarta Tanpa titik dan koma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar