Selamat malam masa lalu. Gerimis manis malam ini menyapaku
kembali setelah mungkin tepatnya satu minggu yang lalu. Mungkin memang belum
pantas untuk kusebut masa lalu. Hanya saja semua terasa lama dan memuakkan. Aku
yang memaksa lari dan menjauh. Menepis segala rasa dan rindu untuk bersamamu. Apa
kabarmu disana?? Masihkah kau mengharapkannya? Mengharapkan gadis penjaga yang
cantik itu. Yang kuakui memang idola, aku kalah tentu saja. Tertawalah. Kau
boleh saja mwnterawakan kebodohanku yang belum juga bisa melupakanmu.
Kelakuanku yang kekanakan minggu ini memang sangat jauh dari akal manusia,
bodoh. Lupakan. Kembali ketopik utama. Bagaimana kabarmu disana? Sekali lagi
aku bertanya. Bagaimana pula kabar acaramu yang masih membutuhkan banyak dana
dan bantuan itu? Bagaimana kabar keluargamu? Adikmu yang baru saja berulang
tahun. Dan bagaimana juga kabar matamu? Pelindung kaca dimatamu yang beberapa hari
lalu patah itu kini kau ganti dengan lensa tipis berwarna hitam. Menutupi bagian
putih dimatamu yang sipit itu. Ingat, jangan lagi tidur sembarangan sebelum kau
melepas lensa kontakmu ya. Itu berbahaya. Eh? Maaf. Sekali lagi maafkan aku.
Sampai saat ini, aku masil belum juga bisa menghilangkan sosok mu dari
pikiranku. Seperti malam yang tak mampu menghapus bintangnya. Aku juga tak
mampu. Jaga dirimu disana ya. Aku tak apa disini sendirian mengharapkanmu dalam
diamku. Maafkan aku yang tak kunjung sadar akan kenyataan bahwa aku tak pantas
mengharapkanmu, sejak awal.
Dari Pemuja Rahasiamu yang bahkan kau sudah tahu
yang cintanya tak pernah kau pikirkan,
namun tetap bersikeras untuk bertahan
itu, Aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar