Langit yang mulai menghitam karena matahari telah berganti
arah untuk berlabuh, menandakan bahwa acara megah akhir tahun mu ini siap
dimulai
Gerbang utama gedung ini terbuka dan banyak orang berbondong
masuk
Canda tawa dan rasa ingin tahu mereka hanya dapat kusaksikan
dari atas balkon lantai dua
Aku yang bertugas sebagai penjaga setiap tanda untuk bisa
masuk hanya bisa berdiri menanti dan tak sempat menikmati, pesta mu
Kau pemimpinnya, kau adalah pemilik acara ini. Sedangkan aku
hanyalah seseornag yang berdiri dibaliknya, membantu
Riuh teriakan penonton yang hanya bisa kudengarkan dari
balik lorong gelap ini, kunikmati
Beberapa kali kau terlihat berlalu-lalang didepanku
Kadang, kau menanyakan kabar yang kutahu jawabannya
Kadang kau menemaniku berbincang beberapa menit lalu kau
kembali bertugas
Kadang aku yang sengaja memintamu berhenti sejenak untuk
sekedar saling sapa denganku
Kadang kau menyempatkan berhenti didepanku hanya untuk
menengok lantai satu yang terlihat dari balkon lantai dua ini
Siapa lagi? Tentu saja penjaga tiket itu. yang kau puja
namun tak sempat kau dapatkan
Sudahlah. Lupakan. Memikirkan orang lain hanya merusak
cerita malam puncak ini. Cerita menurut sudut pndangku
Close gate. Adalah ungkapan paling menyenangkan saat itu.
saat dimana akhirnya aku dapat ikut masuk dan menyaksikan betapa mewahnya acara
didalam gedung ini
Kulihat kau duduk sendiri diarea dekat pagar pembatas. Tentu
saja aku datang dan duduk disampingmu
Bersama menonton konser, berbincang sebentar. Sampai akhirnya
kau menyuruhku untuk kembali keluar.
Keluar masuk. Itulah pekerjaanku.
Mengamatimu dari jauh. Itulah yang bisa kulakukan.
Beruntungnya aku sempat mengabadikan sebuah foto kita
Sampai sekarang setelah aku bercerita, terlihat hanya aku
yang berharap dan bahagia
Pada acara puncak kita berteriak bersama. Menari bersama. Dan
tersenyum bahagia bersama
Diakhir acara, pujaan hatimu ulang tahun. Si cantik yang kau
impikan itu mengulang hari lahirnya
Melihatmu tak bisa tersenyum puas karena ada sosok lain yang
menemani gadis itu.
Kau hanya mampu mengucapkan selamat dan mendapat beberapa
olesan cream pada wajahmu yang mungkin enggan untuk kau bersihkan
Sampai aku akhirnya menguatkan tekadku untuk mendatangimu
Ini. Kuberikan rangkaian bungan mawar putih merah muda
sebagai ucapan selamat
Cukup lama kau membalas jabat tanganku sembari kau mengusap
wajahmu dan penuh cream kue
Kupikir kau akan membersihkan tanganmu sebelum membalas
salamku
Ternyata salah. Aku salah besar.
Tak kusangka. Kau mengusapkan tanganmu pada pipi kiriku. Oh tuhan
Aku tahu itu adalah niat isengmu mengoleskan cream kue pada
wajahku
Tapi itu cukup membuat jantungku berhenti berdetak selama
beberapa detik
Cukup membuat mataku tak berkedip beberapa saat, dan
membekukan tubuhku
Sampai akhirnya aku hanya bisa berteriak menahan rasa senang
dan malu
Lupa padaku. Aku tak akan terkejut.
Kau menghilangkan rangkaian bunga dari ku. Sedih? Tentu saja
Untunglah aku masih punya setangkai bunga mawar putih yang
menggambarkan isi hatiku untukmu
Rasa sayangku yang murni dan penuh harapan. Yang tak apa
meski tak kau balas
Ini, untukmu. Jangan pernah kau hilangka seperti yang
sebelumnya.
Dengarkan dan kuharap kau menjaganya kali ini
Overall. Terima kasih untuk malam puncak yang membahagiakan
ini
Maaf aku semakin melebihkan perasaanku. Maaf karena mungkin
aku tak akan semudah itu melupakanmu dari hatiku
Satu lagi pesanku. Jangan pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar