Aku tersenyum ketika mengingat pertanyaanmu semalam, berbeda
Rasanya seperti ada hembusan angin yang tiba-tiba melewati
belakang tengkukku
Sesaat aku akan terpaku dan kembali tersenyum –mengingatmu-
Aku terkejut ketika kau bertanya, “apa menurutmu cinta itu
harus memiliki?”
Tentu saja kujawab dengan yakin, “tidak.”
Kau terlihat berpikir sejenak sambil mengangkat alismu, “menurutku
cinta itu harus memiliki.” Ternyata kau telah memiliki argumenmu sendiri
“oh. Kalau begitu itu bukan cinta. Itu adalah obsesi.” Jelas
aku memiliki pendirianku sendiri
Kau terdiam –mungkin sadar-. Tapi kau terlihat mencari
kata-kata untuk menyangkalku. Mungkin kau tak percaya pada mengamat cerita
amatiran seperti aku ini.
Jika aku boleh menjelaskan, perbedaan aku dan kau adalah
tentang hal ini. Yang kurasakan adalah cinta –padamu-, dan yang kau rasakan
adalah obsesi –padanya-
Misalkan kita adalah dua orang ditepi pantai yang ingin
pergi ke dermaga yang ada ditengah laut. Tentu saja ada ombak yang mengarah kepada
kita dan akan selalu begitu.
Aku memilih untuk mengambang diatas ombak. Diombang ambingkan
dan pada akhirnya nanti entah ombak akan membawaku ke dermaga ditengah laut
atau tidak.
Tapi kau, kau memilih untuk berenang melawan arus ombak
untuk bisa pergi ke dermaga itu.
Apa kau paham?
Cinta adalah perasaan yang tulus diberikan meski tak
mendapat balasan dan menerima halal rintang yang menghadang, bahkan rela untuk
menanti akhir yang semu tanpa kepastian.
Dan obsesi adalah perasaan ingin mendapatkan bagaimanapun
caranya. Dalam artian usaha yang penuh dengan paksaan.
Aku menikmati waktu kita jika sedang berbicara berdua
mengenai pendapat tentang fisalah cinta
Menyenangkan dan aku merasa inilah satu-satunya topic yang
bisa kita bahas bersama
Karena dalam hal lain, kita sangatlah berbeda –jauh dari
yang namanya persamaan-
Menjawab pertanyaanmu yang seolah yakin itu sebenarnya
membuatku berfikir –kembali- juga
Sebenarnya yang kurasakan padamu ini apa? Apakah ini
benar-benar cinta atau hanya sebuah obsesi semata?
Aku memang berharap untuk mendapatkanmu, tapi aku tak lantas
memaksamu untuk memilihku juga
Mimpiku cukup sederhana
Aku tak pernah ingin memaksa untuk menjadi wanita yang ada
disampingmu dan mendapat pelukan hangatmu
Aku cukup bahagia menjadi seseorang yang tersenyum
dibelakangmu saat kau bahagia
Mungkin orang tidak akan percaya. Mungkin orang akan
menganggapku sebagai seseorang yang munafik.
Tidak. Aku bukan seseorang munafik yang berkata 180 derajat
berbeda dengan isi hatinya
Aku tak pernah berbohong mengatakan aku tidak mencintaimu,
aku tak pernah berbohong mengatakan aku tidak mengharapkanmu. Aku mengakuinya,
bukan?
Aku mencintaimu, aku mengharapkanmu, tapi sungguh aku tak
pernah memaksamu untuk membalasnya
Menulis cerita singkat ini membuatku sedikit sesak juga –lagi
lagi karena memikirkanmu-
Pelipis mataku mungkin sudah kering untuk bisa menitikkan
airmatanya kembali untuk menangisimu
Bukankan ini memang jalan yang kupilih untuk menerima apapun
keputusanmu
Menerima apapun balasan yang kau berikan, walau berbeda
degan yang kuharapkan
Tak apa. Aku cukup bahagia menjadi sosok teman yang kau
butuhkan
Aku cukup menikmati waktu kita sebagai seorang teman yang
selalu bercerita kisah yang hampir sama
Terima kasih ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar