I need you when you're not around
Aroma tanah setelah hujan, putik masih malu untuk mekar, begitupun dahan enggan tegak. Bulan merona tak sempurna menorehkan warna samar ditepinya. Malam yang sunyi bersama angin yang semerbak.
Aku masih dalam cerita tengah malam, yang terus berlanjut hingga aku lupa jarum jam yang terus berputar, lampu yang meredup, suara fajar yang menepi. Ini belum pagi.
Lupa dengan naskah yang kusiapkan, karena kenangan menyihirku untuk kubuka kembali. Ku ingat setiap subab yang lama terpendam, lalu kusampaikan seperti aku mengulangnya. Begitu indah.
Hingga ketika perpisahan itu ada, aku tersadar bahwa aku telah lama lupa. Denganmu. Yang hadir, tak kusadari. Begitu rapuh hingga kutakut menggenggammu, begitu penuh dengan pertanyaan. Membuatku ragu.
Namun satu hal, detik ini, satu. Aku membutuhkanmu. Untuk menemaniku menapak jalan sunyi ini, yang hanya hitam putih, berkelok begitu panjang. Aku takut sendiri.
Lalu, dua. Kamu tidak ada disini. Kamu tidak ada untuk melihatku, kamu tidak ada untuk berjalan bersamaku.
Sedetik kemudian, tiga. Aku melepasmu, untuk pergi dan aku telah menjawab pertanyaan itu. Untuk menyerah atau menunggu. Karena perlu tiga detik waktuku untuk menunggu, namun hanya perlu satu detik untukku melepasmu. Menyerah padamu.
Ini adalah akhir dari aku dan kamu. Ketika kamu berjalan didepanku, aku masih menunggumu berbalik, namun kamu tetap berjalan lurus. Selamat tinggal kamu yang kulepaskan.
Maaf.
Perasaan ini kadang datang diwaktu yang salah. Karena ia -perasaan ini- selalu merindukanmu saat kamu tidak ada disini. Membutuhkanmu ketika kamu telah pergi.
Dan kamu yang tak pernah berbalik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar