Jumat, 08 Juli 2016

Merindukanmu yang Pergi

Selamat malam, kamu.
Aku menyapamu lagi dalam kerinduanku. Ditempat yang sama, dan perasaan yang tidak berubah. Tepat ditengah malam pula juga hening malam yang menemaniku. Yang berbeda, kini aku merindu sendiri. Tak pernah lagi mendapat balasan seperti dulu, darimu. Sekarang aku berbicara sendiri, bersama tulisanku yang juga ingin pergi.

Aku membaca lagi surat surat kita, begitu usang semakin memabukkan. Membuatku sekalipun tak penah bisa lupa. Aku tak sanggup melepaskan masa indah itu. Aku terlanjur mengukirnya, rapi. Sampai kemudian kamu menyayatnya dan pergi. Meninggalkannya sendiri, dengan goresan yang membekaskan luka. Tak pernah terobati.
Aku masih sering tersenyum mengingat perhatianmu yang dulu, mengingatkan ini dan itu. Membuatku merasa sepi setelah beberapa lama ini tak lagi aku mendengar semua kalimat dan nada bicaramu yang khas. Membuatku menunduk, mengangguk, meratap, bahkan meneteskan air mata. Namun, kala itu hidupku penuh dengan kebahagiaan. Karena setiap detiknya kulalui bersamamu.
Tuhan, jika boleh kuminta ia kembali. Mengisi ruang hatiku yang hanya bisa menerima satu orang ini. Tuhan, yang kau janjikan, bisakah ia menjadi satu satunya? Menjadi yang kau peruntukkan. Menemaniku seperti dulu.
Dan, kamu.
Apakah masih ada caramu untuk kembali? Aku menunggu dengan sebuah kesempatan untukmu hadir lagi dan membahagiakanku untuk kedua kalinya. Kamu, yang selalu aku rindukan, yang pernah ada, dan membuatku jatuh hati. Kembalilah. Jangan biarkan aku membaca surat kita lagi karena itu berarti aku dan kamu tak dapat saling menatap lagi.
Kamu....
Kumohon, Datanglah lagi.
Karena aku benci merindukanmu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar