"Minggu Depan Aku Ke Jakarta"
Sepanjang hari aku tak bisa berhenti memikirkan kalimat singkat tanpa tanda baca itu. Sesekali ku buka Whatsapp dan menatap ruang obrolan yang hanya berisi satu pesan. ku jelajahi semua pesan masuk setelah aku mengunggah video pernikahan Dhita, membaca ucapan selamat dan mengamini semua doa yang masuk, membalas pesan dari Bisma, dan terakhir kubuka ruang obrolanku dengan Zidan. begitu kosong dibanding dua tahun yang lalu. pesan yang datang tadi pagi kubiarkan menggantung tak kubalas hingga sore ini, aku bingung dan selebihnya jantungku berdebar-debar. aku telah lama mengubur namanya, jauh sampai tak kusadari mungkin ada rasa yang masih tersisa.
kupandangi sungai ampera malam hari bersama teman-temanku. malam ini menjadi malam reuni kami setelah enam bulan lalu di pernikahan Tania, itupun tanpa Dani, karena waktu itu, sore dimana dani seharusnya berangkat ke jogja, pabrik usaha orang tua mengalami kebakaran. Untungnya bukan kecelakaan yang besar, namun tetap saja dia akhirnya tidak bisa meninggalkan orang tuanya. kami sibuk bercerita, tentang kehidupan masing-masing, tepatnya rencana pernikahan siapa setelah ini. semua saling menunjuk padahal dalam hati saling berharap menjadi yang setelah ini. rumah makan di samping jembatan ampera menjadi saksi tawa kami dan lamunanku tentang Zidan. kemudian aku mengingat surat terakhir yang ku tulis untuk Zidan di hari perpisahan kami.
Aku ingin ini menjadi perpisahan yang manis, dimana tidak
ada dari kita yang merasa kesepian. Salahku dimasa lalu adalah memberitahumu
semua hal, tanpa tahu kita akan bertemu titik dimana memang perpisahan bukan
lagi pilihan, melainkan jalan keluar. Aku tahu kita pernah saling mencintai,
teramat sangat takut kehilangan dan sendiri. Dulu tak pernah terbanyang kita
bisa bersama, kemudian tak dapat tergambar untuk melewati hari tanpa satu sama
lain. Namun hari ini, bukan di titik puncak emosi, kita memilih untuk
mengakhiri komitmen ini. Detik ini pun perasaanku padamu masih sama, aku masih
tak bisa membedakan mana kebiasaan mana rasa sayang. Kita terlalu lama mengenal
sampai aku lupa cara hidup tanpamu.
Tuhan maha baik mempertemukan kita, menjadikan kita satu,
dan memisahkan kita tanpa kita tahu apakah ada rencana yang lebih indah untuk
kita. Hidup itu perjalanan, kita tak perlu menebak masa depan, hanya perlu
berjalan mengikuti alur yang tergariskan. Dan begitulah kini kita harus
melewati perpisahan. Ini bukan salahku yang belum dewasa, atau kamu yang tak
bersabar. Kita berdua memang belum ditakdirkan Bersama, sekuat appaun kita
mencoba untuk bertahan.
Percayalah, aku mencintaimu. Namun akan lebih baik seperti
ini, kita hidup dijalan masing-masing.
Zidan tidak membalas suratku, bahkan memberi kabar apapun setelah itu. aku tak sempat mengembalikan semua hal yang dahulu dia titipkan padaku. semua masih ada, tersimpan rapi, lengkap dengan semua kenangan di dalamnya. menunggu balasan surat cinta yang tak tahu apakah sampai atau mungkin juga tidak.
malam semakin larut dan jembatan ampera menjadi sepi namun tetap memancarkan kerlap kerlip lampu merah birunya yang khas. hari terakhir di palembang di tutup dengan cerita Dani yang bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Alfa begitu di pulang dari Palembang. tidak ada yang terkejut diantara kami karena sudah pasti penyebabnya adalah Mario yang datang lagi. Mario yang diam diam Dani kirimkan sebuah surat dengan pembuka "dear future husband..."
perpisahan esok hari akan menjadi kenangan terakhir sebelum reuni selanjutnya di salah satu pernikahan kami, entah apakah Dani si playgirl, Bria si pejuang LDR, Reka yang bertaruh dengan dia yang se amin namun tak seiman, atau aku. tidak, sepertinya bukan aku. saat kuliah dulu aku pernah bilang bahwa aku akan mengantarkan satu per satu teman-temanku bertemu dengan pangeran tampannya. dan aku akan menjadi saksi atas keputusan yang mereka pilih ditengah cerita yang mengiringi perjalanannya mereka
cerita teman-temanku memang unik, tapi tidak serumit ceritaku yang pernah jatuh cinta sedalam-dalamnya, bertahan sekuat-kuatnya, dan bersandiwara sepintar-pintarnya; dengan tiga orang yang berbeda. dan semuanya meninggalkan cerita yang belum usai.
tak kan pernah usai, sampai aku memilih, atau ditinggalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar