22 Desember 2022
Coba kalian berkaca lagi, saat kalian menangis dimalam hari,
atau terkantuk padahal masih pagi, perut keroncongan di siang menjelang sore,
dan terlelap saat memang tubuh sudah tak sanggup bertahan lagi, siapa yang
melewati hal itu semua serta merta sendirian? Kalian sendiri. Pernahkah kalian
mengapresiasi langkah kaki yang telah berjalan sampai sejauh ini?
“Terimakasih, aku. Manusia terkuat saat ini.”
Kalau boleh jujur, aku tidak ada rencana untuk memposting,
atau bahkan berkabar dengan ibuku di hari cantik ini, tanggal dua dua bulan dua
belas tahun dua ribu dua puluh dua. Aku jamin, banyak bayi mahal yang
dilahirkan hari ini. Selamat!
Pukul 18.18 tepatnya setelah aku shalat magrib dan bersiap
untuk membuang apa yang seharusnya dibuang setelah hamper 3 hari. Pesan masuk
yang tidak kunanti itu datang. Dan bilang ingin bicara. Aku, setelah sepuluh
bulan tinggal jauh dari rumah, selalu merasa tidak suka jika di hubungi oleh
orang rumah. Karena aku tahu hanya ada dua alasan. Yang pertama minta uang,
yang kedua adalah kabar duka. Aku sangat benci kedua hal tersebut melebihi aku
membenci apapun.
Aku tidak suka bertele-tele, ku dentingkan telepon di Jogjakarta
sembari aku menyelesaikan bisnis yang memang ku prioritaskan, tidak masalah aku
dibilang tak punya norma kesopanan. Dan, ya seperti kataku, seorang manusia
yang berharap dicintai dengan seluruh
hidup seorang anak memintaku merogoh kocek lagi. Aku mengiyakan semua
perkataannya karena aku malas berdebat.
Kita berbicara ngalor ngidul dan sempat bertengkar, hingga
telepon dialihkan ke manusia yang sangat kucintai dengan sepenuh hati. Sura rendah
yang selalu kurindukan setiap kali aku hendak menutup mata. Bapak. Yang selalu
menjadi penengah namun akhirnya tetap mengalah. Katanya, demi aku dia akan
melakukannya. Banyak hal yang terjadi dirumah, dan seharusnya aku ada disana. Bukan
menjadi peran pembantu, namun sebagai ornag yang megambil keputusan.
Setelah perdebatan Panjang dan berbicara mengenai hal-hal
yang tak membosankan, wanita itu mengambil alih pembicaraan dengan memberi
kabar bahwa seorang anak dari orang yang kita kenal telah mulia hidupnya. Dia memberi
kabar, tapi aku tau maksudnya adalah membandingkan. Aku 24 tahun hidup dalam
perlombaan, menjadi orang yang pertama sampai di garis finish itu tidak cukup. Menjadi
orang yang menghargai proses, dan menghargai pencapaian pun tidak akan pernah
membuat orang yang disebut “ibu” itu puas.
Ia mengekangku, menjeratku, menjebakku, yang membuatku mewujudkan
semua mimpinya.
“Tidak Cuma kamu, wahai orang tua. Aku juga punya mimpi. Dan
itu tanggung jawabku! Sementara mimpi-mimpimu, itu juga tanggung jawabmu!”
Aku tidak ingin menyesal, jika tua nanti aku merasa
terlambat. Bahwa mengapa dulu ketika masih muda aku tidak melakukan ini dan tidak
membeli itu, lantas aku menyuruh anakku mewujudkannya. Tidak. Aku tidak
melahirkan mereka untuk itu. Aku ingin mendidik dan merawat manusia-manusia itu
menjadi pribadi yang bebas dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, sedangkan
aku adalah urusanku.
Dilahirkan dikeluarga yang berkecukupan di masa lalu, dipandang
baik dan menjadi tauladan itu fana. Di dalamnya kami retak. Kami tidak seindah
itu. Dari tiga anak, tidak ada yang disyukuri karena kami terlahir sehat,
justru kami selalu disalahkan karena tidak bisa menjadi nomor satu. Aku sebagai
anak pertama, yang di gadang-gadang dapat menjunjung martabat keluarga, jika
hidup memang tak sejalan aku bisa apa.
Sejak kecil aku punya penyakit kulit, bukanya diobati, aku
justru dimarahi ketika aku menggaruk luka yang tidak akan sembuh itu. Aku juga
ingin memakai rok pendek seperti teman-temanku. Aku ingin berdandan seperti
barbie, memakai baju-baju lucu. Namun yang mereka lakukan adalah malu. Membuatku
membenci diriku sendiri, membuatku benci pada anggota tubuhku yang bahkan orang
lain menginginkan punya dua tangan, dua kaki, rambut yang indah, dan anggota
badan yang lengkap. Aku memakai jaket diruangan ber AC dibilang norak, apapun
yang kupilih dibilang kuno. Aku selalu salah dimatanya.
Sampai yang ku tahu adalah menurut dan menurut, karena saat
itu aku tidak berdaya. Aku hidup dengan mereka, makan dari hasil masakannya,
bahkan sekolah dari jerih payah mereka. Namun, bukankah itu yang dinamakan
tanggung jawab? Lagi pula, sekolah hanyalah kedok untuk ajang membanggakan di
acara arisan. Saat aku menjadi nomor satu kala itu, orang tuaku diam. Merendah untuk
meninggi, itu sengaja. Jangan kalian piker mereka rendah hati. Tidak. Mereka sombong
dengan cara mereka sendiri. Saat aku jatuh, mereka berbicara dengan lantang padauk
di tengah tangisanku yang merasa aku gagal. Meneriaki bahwa aku tidak berguna.
Apakah tujuan manusia dilahirkan hanya untuk memenuhi ekspektasi
orang tua? untuk mewujudkan hastrat pemuas pembuktian jati diri mereka?
Aku sudah cukup banyak berkorban perasaan selama hidupku memikirkan mimpi-mimpi apa yang harus kurelakan, jalan mana yang harus kupilih agar aku tidak tersesat, seberapa banyak hal yang harus kukorbankan agar dapat menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi banyak orang. aku tidak sanggup lagi berada dalam tengah-tengah jalan mewujudkan mimpinya.
Saat ini, aku dijunjung tinggi olehnya karena aku punya kuasa dan uang. tapi ketika nanti aku memilih untuk melepaskan semuanya, apakah aku masih akan dianggap ada? apakah aku masih bisa disebut sebagai manusia, sebagai anaknya? saat aku tidak bisa lagi memberinya uang, apakah lebih baik aku mati saja?
Terimakasih telah melahirkanku, namun jika boleh aku memilih,...............................
sudahlah, biarkan aku dan tuhan yang tahu,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar