Kamis, 22 Desember 2022

Hari Ibu

 

22 Desember 2022

Aku melihat banyak poster seorang ibu memluk anaknya bertebaran di postingan Instagram, story whatsapp, twitter, bahkan beranda youtube memuat konten hari ibu. Katanya, sebagai wujud terimakash karena telah menjadi sosok paling kuat, paling tegar, dan paling sabar dalam hidup. Aku bukannya tidak setuju, tapi menurutku orang paling kuat, paling tegar, dan paling sabar dalam hidupku adalah diriku sendiri.

Coba kalian berkaca lagi, saat kalian menangis dimalam hari, atau terkantuk padahal masih pagi, perut keroncongan di siang menjelang sore, dan terlelap saat memang tubuh sudah tak sanggup bertahan lagi, siapa yang melewati hal itu semua serta merta sendirian? Kalian sendiri. Pernahkah kalian mengapresiasi langkah kaki yang telah berjalan sampai sejauh ini?

“Terimakasih, aku. Manusia terkuat saat ini.”

Kalau boleh jujur, aku tidak ada rencana untuk memposting, atau bahkan berkabar dengan ibuku di hari cantik ini, tanggal dua dua bulan dua belas tahun dua ribu dua puluh dua. Aku jamin, banyak bayi mahal yang dilahirkan hari ini. Selamat!

Pukul 18.18 tepatnya setelah aku shalat magrib dan bersiap untuk membuang apa yang seharusnya dibuang setelah hamper 3 hari. Pesan masuk yang tidak kunanti itu datang. Dan bilang ingin bicara. Aku, setelah sepuluh bulan tinggal jauh dari rumah, selalu merasa tidak suka jika di hubungi oleh orang rumah. Karena aku tahu hanya ada dua alasan. Yang pertama minta uang, yang kedua adalah kabar duka. Aku sangat benci kedua hal tersebut melebihi aku membenci apapun.

Aku tidak suka bertele-tele, ku dentingkan telepon di Jogjakarta sembari aku menyelesaikan bisnis yang memang ku prioritaskan, tidak masalah aku dibilang tak punya norma kesopanan. Dan, ya seperti kataku, seorang manusia yang berharap dicintai  dengan seluruh hidup seorang anak memintaku merogoh kocek lagi. Aku mengiyakan semua perkataannya karena aku malas berdebat.

Kita berbicara ngalor ngidul dan sempat bertengkar, hingga telepon dialihkan ke manusia yang sangat kucintai dengan sepenuh hati. Sura rendah yang selalu kurindukan setiap kali aku hendak menutup mata. Bapak. Yang selalu menjadi penengah namun akhirnya tetap mengalah. Katanya, demi aku dia akan melakukannya. Banyak hal yang terjadi dirumah, dan seharusnya aku ada disana. Bukan menjadi peran pembantu, namun sebagai ornag yang megambil keputusan.

Setelah perdebatan Panjang dan berbicara mengenai hal-hal yang tak membosankan, wanita itu mengambil alih pembicaraan dengan memberi kabar bahwa seorang anak dari orang yang kita kenal telah mulia hidupnya. Dia memberi kabar, tapi aku tau maksudnya adalah membandingkan. Aku 24 tahun hidup dalam perlombaan, menjadi orang yang pertama sampai di garis finish itu tidak cukup. Menjadi orang yang menghargai proses, dan menghargai pencapaian pun tidak akan pernah membuat orang yang disebut “ibu” itu puas.

Ia mengekangku, menjeratku, menjebakku, yang membuatku mewujudkan semua mimpinya.

“Tidak Cuma kamu, wahai orang tua. Aku juga punya mimpi. Dan itu tanggung jawabku! Sementara mimpi-mimpimu, itu juga tanggung jawabmu!”

Aku tidak ingin menyesal, jika tua nanti aku merasa terlambat. Bahwa mengapa dulu ketika masih muda aku tidak melakukan ini dan tidak membeli itu, lantas aku menyuruh anakku mewujudkannya. Tidak. Aku tidak melahirkan mereka untuk itu. Aku ingin mendidik dan merawat manusia-manusia itu menjadi pribadi yang bebas dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, sedangkan aku adalah urusanku.

Dilahirkan dikeluarga yang berkecukupan di masa lalu, dipandang baik dan menjadi tauladan itu fana. Di dalamnya kami retak. Kami tidak seindah itu. Dari tiga anak, tidak ada yang disyukuri karena kami terlahir sehat, justru kami selalu disalahkan karena tidak bisa menjadi nomor satu. Aku sebagai anak pertama, yang di gadang-gadang dapat menjunjung martabat keluarga, jika hidup memang tak sejalan aku bisa apa.

Sejak kecil aku punya penyakit kulit, bukanya diobati, aku justru dimarahi ketika aku menggaruk luka yang tidak akan sembuh itu. Aku juga ingin memakai rok pendek seperti teman-temanku. Aku ingin berdandan seperti barbie, memakai baju-baju lucu. Namun yang mereka lakukan adalah malu. Membuatku membenci diriku sendiri, membuatku benci pada anggota tubuhku yang bahkan orang lain menginginkan punya dua tangan, dua kaki, rambut yang indah, dan anggota badan yang lengkap. Aku memakai jaket diruangan ber AC dibilang norak, apapun yang kupilih dibilang kuno. Aku selalu salah dimatanya.

Sampai yang ku tahu adalah menurut dan menurut, karena saat itu aku tidak berdaya. Aku hidup dengan mereka, makan dari hasil masakannya, bahkan sekolah dari jerih payah mereka. Namun, bukankah itu yang dinamakan tanggung jawab? Lagi pula, sekolah hanyalah kedok untuk ajang membanggakan di acara arisan. Saat aku menjadi nomor satu kala itu, orang tuaku diam. Merendah untuk meninggi, itu sengaja. Jangan kalian piker mereka rendah hati. Tidak. Mereka sombong dengan cara mereka sendiri. Saat aku jatuh, mereka berbicara dengan lantang padauk di tengah tangisanku yang merasa aku gagal. Meneriaki bahwa aku tidak berguna.

Apakah tujuan manusia dilahirkan hanya untuk memenuhi ekspektasi orang tua? untuk mewujudkan hastrat pemuas pembuktian jati diri mereka?

Seperti yang aku bilang, aku juga punya mimpi. aku tidak suka menjadi barang investasi. Dia pernah ebrkata, bahwa dia ingin hidup tenang. saat ketiga anaknya telah berhasil menjadi orang, dia tidak akan lagi khawatir dengan uang. GILA!

Masa tua yang dia khawatirkan adalah uang, bukan suara anak-anak yang menemaninya menghabiskan sore hari di pedesaan, bukan juga belaian yang mengelus kepala sebelum tidur. Aku tidak habis pikir. dia adalah yang semua orang elu-elukan di hari ini, maaf tapi tidak denganku.

Aku sudah cukup banyak berkorban perasaan selama hidupku memikirkan mimpi-mimpi apa yang harus kurelakan, jalan mana yang harus kupilih agar aku tidak tersesat, seberapa banyak hal yang harus kukorbankan agar dapat menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi banyak orang. aku tidak sanggup lagi berada dalam tengah-tengah jalan mewujudkan mimpinya.

Saat ini, aku dijunjung tinggi olehnya karena aku punya kuasa dan uang. tapi ketika nanti aku memilih untuk melepaskan semuanya, apakah aku masih akan dianggap ada? apakah aku masih bisa disebut sebagai manusia, sebagai anaknya? saat aku tidak bisa lagi memberinya uang, apakah lebih baik aku mati saja?

Terimakasih telah melahirkanku, namun jika boleh aku memilih,...............................

sudahlah, biarkan aku dan tuhan yang tahu,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar