16 November 2022
21.56
Bandung, Jawa Barat
Sebelum aku cerita tentang malam ini, aku ingin bercerita tentang 2022. Sebuah titik balik kehidupanku terjadi di tahun ini, di usiaku yang menginjak 24 tahun di bulan juli 2022. Aku tidak menyangka hidupku akan berubah semenakjubkan ini, terimakasih kepada tokoh yang terlibat di dalamnya, untuk tuhanku, Allah. untuk keluargaku, dan orang orang yang kukasihi.
jujur, aku tidak bisa membedakan bercerita dan mengumbar kebahagiaan (sombong). jadi banyak hal yang akan ku tulis malam ini, kalian bebas menilaiku seperti apa. pribadi yang cerewet, sok tahu, kekanak-kanakan, atau orang bermulut besar.
Sejak akhir 2019 aku mulai menulis buku harian, yang tidak isi setiap hari. hanya saat aku ingin bercerita namun tak punya ruang berdialog dengan siapa. dari sana aku bisa melihat perubahan yang terjadi padaku setiap tahunnya, dan hal hal yang merubahku pada masanya. Dulu, mimpiku begitu tinggi, tak bisa kuraih. kini, mimpiku besar, dan aku sedang menyelaminya.
bagi seorang aku di masa itu, keiinganku adalah aku melanjutkan pendidikan, menabung sebulan 1 juta, membelikan adikku laptop, memberi uang pada orang tua. bagi beberapa orang mungkin itu adalah mimpi kecil, hal remeh. tapi itu yang ku dambakan saat itu. sesepele itupun aku tak mampu. bagiku punya uang 10.000.000 sudah aman bagiku untuk melalang buana. aku bisa membeli apa saja. karna di masa itu, untuk mendapatkan gaji 3 juta per bulan sangat menguras energi dan emosi. belum lagi tuntutan orang tua yang menginginkan aku menjadi seorang aparatur sipil negara. tapi lucunya, kala itu aku SELALU MERASA CUKUP.
lain hal dengan yang terjadi padaku sekarang. alhamdulillah aku diberi kepercayaan untuk bekerja di kantor pemerintahan di ibukota. dengan gaji yang alhamdulillah melebihi bayangan. jika hanya untuk mewujudkan cita-citaku waktu itu, uangku masih sisa. namun, yang namanya gaji yang besar datang bersama tanggungan yang besar juga itu nyata. aku merantau, jauh dari keluarga, hidup mandiri, memiliki uang yang banyak, namun aku merasa tidak cukup. targetku meningkat, keinginan untuk memberi orang tuapun semakin mendesak.
apakah aku kurang bersyukur ? apakah aku terlalu sombong ?
dan ini hal yang kulakukan.
sebelum beranjak pada kesimpulan, aku ingin bercerita tentang rekan kantorku. aku tidak tahu kenyataannya, namun jika dilihat, sepertinya aku adalah anak yang besar dari keluarga yang sederhana sementara mereka adalah orang berada. ketika aku sedih melihat saldo rekeningku tidak banyak, ketika aku merasa kalah tak dapat membeli apa yang mereka punya, aku hanya bisa mengelus dadaku dan berkata : "percuma kamu hidup bergelimang harta, jika tak ada yang kamu sisihkan untuk orang tua"
orang tua kalian mungkin masih berada, tidak meminta, namun tak ada orang tua yang tidak bahagia jika diberi hadiah oleh anaknya.
aku adalah orang yang mandiri, dan kemandirianku yang mengajarkanku untuk sombong seperti ini. aku sombong ketika aku bisa berdiri di kaki sendiri, sementara orang lain masih bergantung kepada orang tuanya. aku merasa baik ketika aku tidak malu tidak punya barang bagus, sementara kalian masih dibelikan oleh orang tua kalian.
kesombongan itu yang menahanku dari ikhlas. aku bersyukur dengan apa yang kumiliki, namun untuk ikhlas dengan tanggungan yang menyertainya begitu sulit. itu yang membuat aku merasa hidupku masih kurang padahal sebenarnya hidupku di 2022 jauh lebih baik dari apa yang kumimpikan.
selain tentang itu, akupun bertanya-tanya apakah ingin terlihat ramah dan menyenangkan itu salah ? apakah cuek itu bisa disebut dewasa ?
aku adalah pribadi yang ceria dan selalu ingin berinteraksi dengan semua orang. namun beberapa orang menyuruhku untuk cuek saja. bahkan seseorang bilang "grow fucking up". hanya karna aku bilang, "kita ngga diajak?" mengomentari sebuah percakapan dimana ada segerombolan pergi untuk bersenang-senang padahal aku dan beberapa orang yang lain juga begian dari mereka. aku berbicara seperti itu bukan karena aku minta diajak, menurutku, ajakan adalah sebuah kepedulian.
aku bisa pergi sendiri. sore tadi aku ingin pergi ke mall untuk membeli sepatu. aku punya 2 teman, aku tahu temanku yang 1 sedang kurang enak badan, yang satu lagi dia tidak punya teman dekat selain kami, aku pun berbasa basi mengajak. bukan karena aku ingin ditemanni, tapi karena AKU MENGANGGAP KALIAN ADA. se sederhana itu kadang-kadang jika berbicara tentang memanusiakan manusia.
apakah aku salah ?
apakah aku juga salah jika menganggap seseorang manja ketika sakit kemudian didatangi jauh jauh oleh orang tuanya ? dalam hal ini mungkin aku cemburu. seperti yang kubilang tadi, aku terlalu mandiri. sebelum aku merantau, aku selalu menyelesaikan masalah sendiri, ke rumah sakit sendiri, bahkan mengambil keputusan sendiri. aku tidak mengerti rasanya diberi perhatian yang terlihat oleh mata dan dirasakan dengan sentuhan tangan.
begitu cara orang tuaku membesarkanku sehingga aku menjadi diriku di hari ini, yang egois, sombong, dan beberapa mengatakan aku seperti anak kecil.
dan akupun tidak mengerti lagi.
sudah pukul 22.25
aku harus melanjutkan agenda malam ini sebelum tidur
sampai jumpa lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar