Minggu, 11 September 2022

Menoleh

Hari itu nyaris gerimis, langit sudah mendung sejak pagi namun hujan masih enggan turun ke bumi. Aku memandang dahan yang menari-nari menyambut angin, dari kaca jendela mobil yang ku buka sedikit. Tanah sebelum hujan memang candu, ditambah lagu lama yang di putar oleh pengemudi kala itu.

Aku seperti diajak menerawang masa lalu, suasana seperti ini yang sering mengajakku melamun, membayangkan kebersamaan yang sekarang tak kuinginkan lagi, mungkin aku sudah lupa rasanya mencintai sedalam dulu.

Sebenarnya ini salahku, menulis ini saat hatiku tidak sedang baik-baik saja, menganggap dunia sedang tidak baik padaku, dan aku ingin kembali pada masa bertahun-tahun yang lalu. Saat yang kutahu adalah bagaimana aku dapat mencintai dan mendapatkan hati seorang yang tak tergapai. Bahkan sampai detik ini.

Aku telah bahagia, meski kadang juga merasa kesepian. aku terus berjalan, tanpa ingin tahu apa arti mencintai, itu katamu.

Aku ingin mencintaimu sepenuhnya, tanpa sering teringat pada rintik hujan disuatu pagi. dan ia yang ternyata juga masih sendiri.

sudahlah, aku ingin menghentikan omong kosong yang kutulis saat aku sedang marah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar