Sabtu, 08 Agustus 2020

Telepon Pertama

Selamat pagi.

kuucapkan pada diriku sendiri di jam setengah empat pagi. aku baru saja pulang dari rumah sakit karena alan maag nya kambuh. entah maag atau asam lambung tapi setauku tidak ada riwayat penyakit maag dikeluargaku. Alan memang begitu, diantara kami tiga bersaudara, dia yang paling sering bolak balik ke rumah sakit. sebelum ini pun kita mengunjungi rumah sakit yang sama karena tangannya terkilir saat bermain voli. aku cukup excited melihat kehidupan rumah sakit jam dua pagi, berbeda dengan suasana sibuknya rumah sakit pada umumnya. tapi bukan itu yang ingin kuceritakan di tulisan kali ini.

mari kita mundur 10 jam sebelum aku menulis cerita ini. sore kemarin aku sedang streaming video di channel youtube favoritku, seperti biasa aku menunggu waktu magrib. kemudian muncul lah sebuah panggilan. nama yang tidak asing namun belum pernah kudapati nama itu menelpon selama 4 tahun terakhir. Panggil saja dia kevin. teman sma ku. yang selama tiga tahun selalu meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas sekolahnya. ya zaman dulu aku memang sebaik itu.

singkat cerita kevin bilang dia sedang nongkrong di tempat hitz dekat rumahku jadi dia menelponku, tapi aku tahu ini lebih dari itu. kevin kemudian menambahkan bahwa dia datang bersamamu. aku excited, entah sungguhan atau pura-pura. tapi kevin menyerahkan teleponnya padamu. KITA BERBICARA LEWAT TELEPON. kita ngobrol.

aku sudah lupa apa yang kita bicarakan tadi, tapi aku berbicara begitu lancar seolah tidak pernah ada apa-apa diantara kita. seolah rasaku padamu tidak pernah ada. kita berbicara layaknya teman. sampai topik itu datang. ketika tiba-tiba aku bilang "aku tidak suka kopi." kemudian kamu bertanya "lalu apa yang kamu suka?" dan aku menjawab tanpa berfikir "KAMU". aku masih ingat bahwa aku menjawabnya dengan sangat yakin, hanya aku tidak tahu itu serius atau basa basi.

sungguh, apakah aku mengatakannya karena kita tidak bertemu langsung, apakah aku mengatakannya karena tahu kamu memasang mode loudspeaker dan semua yang ada disana jadi bisa tertawa? aku memang seperti itu kan, suka menghibur bahkan dengan cara membully diri sendiri. aku tidak bisa lagi membedakan yang kulakukan tadi atas dasar hati atau karena aku memang orang seperti ini.

aku tidak ingat apa yang kukatakan setelah itu, namun perbincangan kita berakhir saat adzan magrib dan aku bilang "jangan lupa solat magrib".

yang kurasakan saat menutup telepon adalah senang, saking senangnya aku ingin mengatakan pada seluruh dunia bahwa kita baru saja mengobrol lewat telepon, tapi aku menahannya. kemudian aku teringat satu hal, senang dan sedih itu datangnya satu paket. biasanya setelah ini aku akan merasakan suatu kesedihan.

dan ya, sekarang aku merasakannya. diperjalanan pulang dari rumah sakit tadi aku berfikir. kamu pergi ke tempat itu tidak sendiri, tidak hanya berdua dnegan kevin, tapi kalian berempat. kevin mengatakannya di awal sambungan telepon tadi. dan kenapa aku baru menyadari bahwa satu orang diantara kalian adalah orang asing. aku tahu kamu bersahabat dengan kevin dan satu orang lainnya. tapi ada satu orang yang bahkan saat sma pun kalian jarang mengobrol. kemudian tiba-tiba hari ini kalian pergi bersama.

terakhir yang kutahu, katanya kamu dekat dengan orang calon dokter. sampai sore tadi pun aku tidak tahu siapa orang itu. semua tebakanku salah selama ini dan akhirnya aku berhenti mencari. namun seseorang yang pergi denganmu tadi, aku baru ingat bahwa dia juga calon dokter. apakah mungkin dia orang yang hatinya sedang kamu jaga? apakah dia alasan mengapa kamu menjaga jarak ketika kita terakhir kali bertemu? apakah dia sosok yang menjadi alasan kita tidak bisa bersatu?

aku sebenarnya lelah bertanya-tanya dan menyimpulkan, namun aku juga tidak ingin menjadi orang yang bodoh tidak tahu apa-apa. kemudian kamu tahu kesimpulan dari telepon pertama kita tadi?

adalah aku yakin bahwa aku belum bisa melupakanmu sepenuhnya. dan aku menyadari bahwa aku hanya memiliki satu cara untuk bisa mendapatkan hatimu. adalah dengan mendoakanmu di sepertiga malamku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar