tuan yang selalu datang dalam mimpiku
yang namamu tak lelah kusebut dalam doaku
kini, aku menulis lagi sajak tentangmu
setelah selama itu –kemarin- aku berjuang melupakanmu
dan kau tahu apa yang terjadi pada rasa itu?
bahkan sedikitpun tak dapat hilang
setiap aku bersikukuh
untuk melupakanmu,
besitan kenangan itu
muncul kembali
aku tak pernah meminta, tapi kau selalu disana
kau selalu hadir kembali
batang hidungmu yang selalu kurindukan
mana mungkin aku bisa melupakan semua itu
setelah sekian lama kurajut sendiri cerita tentangmu
melupakanmu adalah hal paling tidak masuk akal untuk
kulakukan
bodoh memang, aku berpura-pura tidak tahu
sampai sekarang, kau masih juga belum melihatku, kan?
Tuan berkacamata bulat, apa yang harus kulakukan?
Agar kau melupakannya dan mulai melihatku?
Tuan, setelah selama ini tak bisakah kau melihat hanya aku
yang benar-benar ada untukmu?
Untuk apa kau mengejar cinta lain yang tak bisa kau genggam,
tuan?
Aku mengulurkan tanganku sudah sejak lama
Aku menawarkan bahuku bahkan ketika aku membutuhkan bahu
lain untuk bersandar
Aku memberikan hatiku bahkan tanpa kau minta
Tapi kau selalu berlari menjauh
Dan ketika aku ingin menghapusmu untuk kesekian kalinya,
Entah kenapa kau hadir dengan membawa tawa kembali
Tolonglah tuan, pergi jika kau memang hanya ingin singgah
Karena yang kuinginkan adalah menjadi sebuah rumah
Tempat untukmu berpulang
Tempat yang selalu kau rindukan
Bukan sebuah tempat pelariaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar