Melihatmu kini seperti mimpi
Semakin jelas aku kini bisa merasakan luka
Sesaat aku tersadar aku tak pantas lagi ada
Aku tak lagi memiliki keberanian untuk terus berdiri
Melirikmu sesekali saja bahkan aku tak mampu
Luka, semakin terasa sesak saat aku mengingatmu
Mengingat kita sebelum aku menyadari betapa kini
Aku terlalu
kecil dan tak berarti
Senja kemarin menyadarkanku untuk bangun dari mimpi
Aku tak kan lagi mampu untuk bersaing
Dengan lantang dan segala keyakinan kau memamerkannya
Gadis kecil nan cantik dan ternama itu
Yang kau banggakan sebagai calon pendampingmu
Sesak. Semakin aku tak bisa bernafas
Hanya bisa melihat kesempurnaan itu dari jendela
Saat kau mengakuinya
Tak kukira akan sesakit ini akhirnya
Kau pernah bertanya “kenapa wajahmu sedih?”
Terlihat. Aku tak bisa bersembunyi lagi
Sayatan tipis dihatiku ini membatku sekarat ingin mati
Namun, keadaan memaksaku untuk terus berada disini
Dalam kesepian dan kepedihan
Yang terpaksa harus kuterima sebagai sebab aku mencintaimu
Seandainya bisa, aku ingin sekali menghentikan perasaan ini
Lelah berada dalam keadaan cinta sepihak
Sesaat merasa ternahagiakan namun seperti berada dineraka
Panas ketika memihatmu bersamanya
Tersayat pedih saat mendengarmu membicarakannya
Jatuh terlalu dalam saat tahu kau mencintainya
Jika boleh aku bertanya, sampai kapan?
Aku akan terus tersiksa menderita dalam lara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar